Bekerja di televisi, mencicipi pengalaman sebagai jurnalis, berhasil menanamkan satu sikap di benak saya. Bahwa 'diatas langit selalu ada langit'. Singkat kata, kesempatan bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang selama ini hanya diketahui di layar kaca atau di koran, berkat menjadi jurnalis saya bisa kenal, mendapat nomor telepon pribadi, ngobrol, bahkan bisa terus bersama selama seminggu lebih kesana kemari dengan alasan tugas. Menjadi jurnalis juga membuat saya tidak merasa paling hebat. Malu rasanya, sedangkan banyak jurnalis hebat lainnya yang bahkan dengan si pejabat anu pun hanya memanggil nama dengan embel-embel Bang atau Mas. Singkat kata, situ oke sampai merasa paling hebat sedunia? Ingat, ada orang lain yang jauh lebih hebat, entah rekan sejawat, atau nara sumber hebat yang rendah hati padahal semua orang tahu siapa dia.
Bekerja di media pula menumbuhkan sikap egaliter, karena semua orang adalah tim dan terhubung dalam satu mata rantai. Siapa pun kamu, atau apa pun jabatanmu. Semua punya andil untuk sama-sama menyelesaikan satu tujuan bersama. Mungkin ada satu dua oknum yang terkadang merasa paling, tapi selebihnya itu hanya sesekali atau segelintir. Team work, team work, team work. Itu yang selalu ditekankan pada kami anak ingusan, sehingga semua menyadari bahwa setiap orang punya kontribusi dalam porsi sama.
Kemudian, sampailah saya banting setir, tidak lagi jadi jurnalis, atau kerja di televisi. Jangan salah, saya cinta pekerjaan (yang tidak terlalu) baru ini. Seperti menemukan kesenangan baru. Hanya saja esensi pekerjaannya memang berbeda, meski mungkin bersinggungan.
Tapi sumpah, saya masih terkaget-kaget. Betapa dalam struktur organisasi di dunia (yang tidak terlalu) baru ini, posisi menjadi menentukan bagaimana perlakuan orang terhadapmu (kadang-kadang). Misalnya saya menelepon si A yang kebetulan adalah bos di perusahaan X, memang level dia setingkat diatas saya. Pertanyaan yang dilontarkan adalah: 'kamu siapa, apa jabatanmu?', ketimbang menanyakan apa keperluan kita menelepon si 'bos' ini. Lalu ketika tahu bahwa level saya masih setingkat di bawah dia,dia berkata 'suruh saja bos-mu telepon saya' dengan nada dingin. Belum sempat saya mengucapkan terimakasih, Klik, telepon pun ditutup dengan manis. Membuat saya lupa, mulut menganga sedemikian lama, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
Lalu saya juga masih terheran-heran, bagaimana semua orang ikut sibuk seperti cacing kepanasan hanya karena akan menyerahkan bingkisan untuk orang yang kebetulan petinggi di perusahaan lain yang punya hubungan dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Atau bahasa tubuh yang setengah membungkuk dengan jempol diarahkan ke tempat duduk tempat seseorang yang katanya punya jabatan (ter) tinggi di satu institusi, akan duduk. Saya bahkan tergagap-gagap, bingung, merasa gak punya etika dan gak ngerti unggah-ungguh, manakala ada bos besar yang akan mampir ke suatu tempat dimana kita berada, ketika melihat semua orang membentuk senyum seragam yang (sepertinya) dilatih sesuai 'SOP'. Lengkap dengan bahasa tubuh serupa, bahasa tubuh siap grak, mimik muka palsu bercampur harap-harap cemas, saya diperhatikan nggak ya (mungkin begitu kira-kira pikirannya). Semua berebut mau kasih tas tangan ke si bos besar ini.
Yang lebih bikin saya geleng kepala lagi, adalah bagaimana segelintir orang memperlakukan anak buah layaknya 'kacung'. Menyuruh dengan suara keras, intonasi memerintah, dan bahasa tubuh yang mengesankan "saya -lebih- tinggi- jabatannya -dari- kamu -jadi- kamu -diam -dan- ikuti- ucapan- saya- saja". Jangan harap ada diskusi manis, perdebatan seru demi menggali ide dan kreativitas. Yang jelas kalau kamu anak buah, diam dan ikuti saja. Hakikat anak buah adalah diam, disuruh, dan dipotong kalimatnya meski belum selesai mereka berbicara. Kasus lainnya lagi, memanggil anak buah dengan berteriak, padahal jarak ruangan dengan si anak buah itu dekat. Kalau khawatir gak kedengeran, bukankah bisa menelepon, atau di BBM saja karena kebetulan masing-masing punya PIN BB satu sama lain. Hare gene masih tereak cyiin, malu ama pitch control.
Cerita lain adalah, disuruh-suruh dengan gaya bahasa 'lu gua' oleh atasan, dengan suara setengah berteriak, nada tinggi..Dengan kalimat kira-kira begini : 'lu kalo perlu tungguin kerjaan X, lu tungguin ampe tengah malem dah. Gua gak mau tau. Pokonya gua ke kantor jam 10 malam, lu masih harus ada'. Diucapkan layaknya dengan pengeras suara, di depan orang advertising yang bukan pegawai kantor itu, yang cuma bisa mengatakan dengan nada prihatin "sabar ya". Walhasil si anak buah 'penurut' ini, usai menyelesaikan pekerjaan X disatu tempat pukul 10.30 malam, kembali ke kantor menemani si bos (mulut) besar, menunggu hingga pukul 12. Tanpa mengerjakan apapun atau disuruh mengerjakan tugas apapun. Singkat kata, cengo cyiin. Yang penting lu ada, gitu kali pikiran si bos.
Nah saudara-saudara, cerita diatas hanya segelintir yang (mungkin) dialami segelintir orang. Atau bahkan anda. Tapi, si penulis bodoh ini punya pertanyaan bodoh : apakah di 'belahan dunia' ini memang betul : Anak buah=Kacung dan jabatan kamu akan menentukan perlakuan yang didapat tanpa diminta?
Huffft, kejamnya dunia
Atau mungkin saya sedang sial. Atau rekan-rekan saya yang lain juga sedang sial karena memang tempat kerja mereka kental (sok-sok memper) birokrasi?. Atau mungkin, karena kita gak pernah ikutan John Robert Power ya? Hmmm. Yuuuk yaa...